#OpiniKita : Ujian Nasional, Tantangan atau Tekanan?

UN yang merupakan singkatan dari Ujian Naional memang sudah tak asing lagi. Dari siswa SD hingga setingkat SMA/SMK sudah terlalu sering mendengar istilah ini dari tahun ke tahun. Setiap tingkat pendidikan akan mengalami masa yang namanya Ujian Nasional. Namun tak semua siswa benar-benar “menjalani” ujian nasional.

            Sistem pendidikan Indonesia yang dikatakan masih meraba-raba dan masih mencari jati diri mungkin memang kemungkinan besar benar adanya. Bagaimana tidak, setiap tahun selalu saja ada perubahan aturan Ujian Nasional yang diberlakukan. Standar yang diberikan pun sYook belajar!elalu berubah-ubah. Hal ini kadang mengakibatkan sebagian kecil siswa beranggapan jika nasib mereka buruk karena standar yang diberikan dari tahun ketahun semakin tinggi dan semakin susah dicapai.

            Tahun ini telah disepakati aka nada 20 paket soal yang akan diberlakukan untuk Ujian Nasional. Dan 20 paket itu bukanlah soal sama yang diacak namun benar-benar  soal  yang berbeda. Bisa dibayangkan bagaimana suasana ruang ujian saat ujian berlangsung. Semua akan berkutat dengan diri sendiri. tak ada waktu untuk bergantung dengan orang lain. Tak ada waktu untuk menunggu kode-kode yang diberikan teman. Bahkan teman terdekat pun tak akan bisa membantu. Sebagian siswa akan berpikir “Untuk menyelesaikan pekerjaan di depan mata saja sudah tak terpikirkan bagaimana bisa membantu yang lain”.

            Hal ini akan menjadi sebuah tantangan bagi beberapa siswa. Karena semakin tinggi tingkat kesulitan soal dan semakin tinggi standar yang diberikan, maka ia akan semakin giat berlatih untuk menaklukkan setiap butir soal di depan matanya. Semua usaha akan dikerahkan. Semua kemampuan akan lebih diasah dan dipertajam dalam mengerjakan soal. Dan hal ini pula yang secara tidak langsung menempa mental-mental siswa agar menjadi mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain.

            Namun bagaimana dengan siswa yang terbiasa untuk bergantung? Bagaimana dengan mereka yang belum sepenuhnya siap dan menghunus pedang untuk bertempur? Beberapa dari mereka mungkin akan perlahan-lahan merubah sikap dan menjadi lebih baik. Jika berhasil tentu saja harga diri mereka akan lebih terangkat. Namun apa yang terjadi jika mereka gagal? Akan banyak tekanan yang mereka dapatkan. Terutama tekanan mental. Meskipun standar kelulusan masih berkisar antara nilai 3 hingga 4, namun hal yang tak dapat mereka terima adalah kehilangan harga diri. Mereka akan malu jika lulus hanya dengan nilai pas-pasan. Mereka belum siap untuk dicap sekedar lulus. Karena setiap siswa menginginkan nilai yang memuaskan untuk lulus. Bahkan siswa terbandel sekalipun pasti menginginkan nilai kelulusan yang besar demi harga dirinya. Tekanan-tekanan seperti inilah yang menjadikan siswa melakukan praktek kecurangan saat ujian yang resikonya cukup tinggi. Namun apa boleh buat, bagi mereka, hanya cara itu yang dapat menyelamatkan harga dirinya.

            Maksud pemerintah menaikkan standar kelulusan mungkin baik. Ibaratkan seorang ibu yang  menggantungkan permen setinggi langit agar anak-anaknya  berusaha semaksimal mungkin menjangkau permen tersebut. Namun tak semua anak dapat meraih permen tersebut karena letaknya terlalu tinggi. Bahkan karena terlalu tinggi, banyak anak yang justru menggunakan kursi untuk meraih permen itu. Bahkan ada yang sengaja menjatuhkan anak lainnya. Alasannya hanya satu, “Yang penting dapet permen”. Begitu juga dengan Ujian Nasional, banyak hal-hal yang tak layak dilakukan justru terjadi. Dengan alas an yang sama, “Yang penting lulus ujian”. Hal seperti inilah yang menyebabkan Ujian Nasional yang seharusnya menjadi ajang evaluasi diri sendiri menjadi tidak berarti apa-apa karena bukan hasil keringat sendiri.

            14 April 2014, waktu yang menentukan apakah ijazah kita akan tertera kata LULUS atau TIDAK LULUS. Tidak ada penolakan lagi karena ujian nasional adalah syarat mutlak untuk kelulusan. Entah itu tantangan ataupun tekanan, toh kita mau tak mau harus menjalaninya juga. Sekarang hanya bagaimana cerdiknya kita untuk mengakali suatu tekanan menjadi suatu tantangan. (pkd)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s